Anak Adalah Peniru Ulung: Kenapa Perilaku Kita Lebih Berdampak daripada Ribuan Nasihat?
“Jangan main HP terus ya, Kak, nanti matanya rusak.”
Pernahkah Moms mengucapkan kalimat itu kepada si kecil sambil tangan Moms sendiri sedang memegang smartphone dan mata Moms asyik menggulir media sosial? Atau mungkin, kita sering menasihati anak-anak untuk tidak berteriak saat marah, tetapi kita menyampaikannya dengan suara yang meninggi dan nada membentak.
Sebagai orang tua dari tiga anak yang setiap hari berkumpul di rumah karena menjalani homeschooling, momen-momen refleksi seperti ini sering kali menampar saya secara pribadi. Di berbagai kesempatan seminar pengasuhan, keluhan yang paling sering saya dengar dari para Ibu adalah betapa lelahnya mereka memberikan nasihat yang sama berulang-ulang, namun anak-anak seolah tidak pernah mengubrisnya.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana, namun cukup menguji ego kita sebagai orang tua: Anak-anak adalah peniru terbaik di dunia, dan mereka belajar dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.
Sebuah pepatah bijak dalam dunia parenting mengatakan, “Children mended their ears when they look at us”—anak-anak sebenarnya sedang menutup telinga mereka dari nasihat kita, karena mata mereka sedang sibuk merekam semua tingkah laku kita.
Mari kita bedah bersama-sama, kenapa perilaku nyata kita di rumah jauh lebih berdampak luar biasa daripada ribuan untai nasihat.
1. Otak Anak Bekerja Lewat “Mirror Neurons”
Secara ilmiah, anak-anak dianugerahi bagian otak yang disebut mirror neurons (sel saraf cermin). Sel saraf inilah yang bertanggung jawab membuat manusia bisa meniru tindakan orang lain di sekitarnya. Ketika si kecil melihat Moms tersenyum, menyapa tetangga dengan ramah, atau merapikan tempat tidur, mirror neurons di otak mereka menangkap aktivitas tersebut dan menyimpannya sebagai cetakan perilaku standar.
Bagi anak, apa yang dilakukan orang tuanya adalah definisi dari “kebenaran”. Jika ibunya sering membaca buku, anak akan melihat membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan normal. Sebaliknya, jika kita menyuruh mereka membaca buku sementara kita sendiri menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi, instruksi tersebut akan dianggap membingungkan oleh otak mereka. Ada ketidaksesuaian (mismatch) antara apa yang didengar dan apa yang dilihat.
2. Keteladanan Membangun Kepercayaan (Trust)
Anak-anak mendeteksi ketulusan dan konsistensi dengan sangat tajam. Ketika kita menuntut mereka untuk jujur, namun mereka sering mendengar kita berbohong kecil—seperti meminta mereka mengatakan “Bilang Ibu sedang tidak di rumah ya” saat ada tamu yang tidak ingin kita temui—anak akan belajar bahwa berbohong demi kenyamanan adalah hal yang diperbolehkan.
Nasihat yang tidak dibarengi dengan tindakan nyata dari orang tuanya lambat laun akan kehilangan “kekuatan magisnya”. Anak-anak tidak lagi memercayai kata-kata kita karena mereka melihat aturan tersebut tidak berlaku untuk orang dewasa yang membuatnya. Keteladanan adalah mata uang tertinggi dalam kedekatan emosional dan pengasuhan. Saat perilaku kita selaras dengan ucapan kita, anak akan menaruh rasa hormat dan percaya yang tinggi kepada kita tanpa kita perlu berteriak.
3. Anak Belajar Mengelola Emosi dari Reaksi Kita
Bagaimana cara Moms bereaksi ketika tumpahan susu membasahi lantai dapur, atau ketika barang kesayangan Moms tidak sengaja dirusak oleh si kecil? Apakah kita langsung meledak marah, ataukah kita menarik napas dalam-dalam lalu mengajak mereka membersihkannya bersama-sama?
Rumah adalah laboratorium emosi pertama bagi anak. Ketika kita menasihati anak untuk sabar menghadapi adiknya, tetapi mereka setiap hari melihat kita mudah sekali marah dan mengeluh atas hal-hal kecil, mereka akan meniru cara kita meluapkan emosi. Mereka belajar bahwa berteriak, membanting barang, atau mengomel adalah cara yang valid untuk mengekspresikan rasa frustrasi.
Sebagai Homeschooling Mom dengan tiga anak yang memiliki karakter unik, saya menyadari bahwa ujian terbesar bukan pada bagaimana merancang materi belajar, melainkan bagaimana melatih ketenangan diri saya sendiri saat situasi rumah sedang tidak ideal. Saat kita mampu merespons masalah dengan tenang, secara otomatis kita sedang mengajarkan ilmu regulasi emosi terbaik kepada anak-anak kita.
4. Nilai-Nilai Kehidupan Menular, Bukan Diajarkan
Kebaikan, rasa syukur, empati, dan kerja keras tidak bisa ditanamkan hanya lewat lembar kerja atau ceramah sebelum tidur. Nilai-nilai indah tersebut menular melalui atmosfer yang kita ciptakan di dalam rumah.
Jika Moms ingin membesarkan anak-anak yang gemar menolong, biarkan mereka sering melihat kita berbagi dengan sesama atau membantu ayah di rumah. Jika Moms ingin anak-anak memiliki tutur kata yang lembut, mulailah dengan membiasakan mengucapkan tiga kata ajaib: “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima kasih” kepada mereka sejak dini. Sentuhan-sentuhan kecil berupa perilaku nyata inilah yang diam-diam akan meresap jauh ke dalam sanubari anak dan membentuk karakter mereka hingga dewasa.
Mengubah Diri Sendiri Sebelum Mengubah Anak
Moms, mengasuh anak pada hakikatnya adalah sebuah cermin besar yang disediakan Tuhan untuk memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Ketika kita merasa anak-anak kita sulit diatur atau memiliki perilaku buruk, hal pertama yang perlu kita lakukan bukanlah memarahi mereka, melainkan mengevaluasi diri kita sendiri.
Alih-alih menghabiskan energi untuk menyusun ribuan kalimat nasihat baru yang panjang lebar, mari kita alihkan energi tersebut untuk memperbaiki sikap, memperhalus tutur kata, dan menjaga konsistensi perilaku kita di depan mereka.
Memang ini bukan tugas yang mudah dan membutuhkan proses belajar seumur hidup. Namun, percayalah, saat kita fokus berbenah menjadi versi terbaik dari diri kita, anak-anak dengan senang hati akan berjalan mengikuti jejak kebaikan yang kita tebarkan di dalam rumah.
Pernahkah Moms mendapati si kecil meniru kebiasaan unik Moms, entah itu kebiasaan baik atau buruk? Yuk, bagikan cerita lucu atau refleksi Moms di kolom komentar di bawah ini. Kita sama-sama belajar menjadi cermin yang indah bagi buah hati kita ya!